Kegigihan untuk menuntut ilmu selalu bisa mengalahkan keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini sudah dibuktikan oleh alumni Magister Ilmu Pemerintahan UMY, Parera Irawansyah, M.IP. yang meski berasal dari keluarga yang tidak mampu dan sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, tidak mematahkan semangat Parera untuk mengemban studi S2 di UMY hingga lulus dengan predikat cumlaude.

Atas kegigihan Parera, mahasiswa asal Sumbawa tersebut mampu mendapatkan beasiswa Jusuf Kalla School of Government (JKSG) UMY yang menghantarkannya hingga mampu menyelesaikan kuliah tingkat master di UMY selama 2,5 tahun. Selain aktif mengenyam pendidikan masternya, Parera juga merupakan staff aktif yang bekerja di JKSG UMY.

Saat diwawancarai di kantor Biro Humas UMY pada Senin (13/2), Parera menyebutkan bahwa keuntungan yang ia dapatkan dari JKSG UMY bukanlah sekedar keuntungan materi saja, namun juga pengalaman riset penelitian. Bahkan selama ia menjalani kuliah di MIP UMY, ia mengungkapkan bahwa di MIP UMY tidak hanya sekedar diajarkan ilmu teoritis saja, melainkan banyak ilmu-ilmu praktis yang juga berguna setelah lulus. MIP UMY dinilai Parera juga tidak hanya menyiapkan para mahasiswanya sebagai akademisi saja, namun juga praktisi dengan kualitas unggul.

Prestasi Parera tidak lepas dari motivasinya untuk terus gigih berjuang tanpa melihat latar belakang atau kondisi. “Saya berusaha mengesampingkan fikiran bahwa saya berasal dari keluarga tidak mampu, terutama kedua orang tua saya yang sudah meninggal. Saya harus berfikiran positif. Di MIP UMY saya juga diajarkan bagaimana untuk siap bertarung di dunia nyata, terutama dengan menyertakan nilai-nilai keMuhammadiyahan,” ujar kader Muhammadiyah tersebut. Parera juga menyebutkan bahwa perjuangannya sebelum masuk ke UMY, ia pernah berjualan ikan di laut, hingga berjualan sayuran di daerah asalnya, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Parera yang diwisuda di UMY pada Sabtu (11/2) lalu juga menyebutkan bahwa saat ini dirinya sudah menuai banyak tawaran di beberapa institusi antara lain di Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Muhammadiyah Mataram, dan Institut Ilmu Sosial dan Budaya (IISBUD). Ia berniat untuk mampu mengamalkan ilmu yang sudah ia dapatkan untuk ditransferkan pada para mahasiswa di daerah asalnya. Di samping berkeinginan untuk menjadi dosen, Parera menyebutkan bahwa dirinya sudah memiliki rencana untuk melanjutkan studi S3 di negara Jerman atau Australia pada tahun mendatang.

Kepada para mahasiswa, Parera memberikan motivasi untuk selalu berfikiran positif. “Kita harus berfikiran positif dan berani mencoba, tanpa melihat kondisi. Yang penting berani mencoba dahulu. Dalam hidup, kita juga harus ada target dan tanggung jawab, karena tanpa itu kita tidak akan bisa meraih apa yang kita impikan. Rasa tanggung jawab itu penting karena bila kita punya rasa bertanggung jawab, tugas-tugas yang kita lakukan akan mampu terselesaikan dengan baik, terutama apabila kita memiliki rasa bertanggung jawab selain kepada diri sendiri tetapi kepada institusi, hingga negara,” tegas Parera.

Parera juga menuturkan thesis S2 yang ia tulis berkaitan dengan Kewenangan Sultan dalam Bidang Pertanahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia berhasil mendapatkan nilai A atas penelitiannya tersebut. Parera yang merupakan pendatang dari luar Jawa mengaku bangga dapat berhasil melakukan penelitian di DIY dengan hasil yang bagus dan memuaskan. Keberhasilan penelitiannya tersebut juga disebut sebagai salah satu berkah ilmu menguasai lapangan yang ia dapatkan dari JKSG UMY. Selain pengalaman dan ilmu, Parera juga menyebutkan bahwa dirinya mendapatkan banyak jaringan selama berkuliah di MIP UMY. Hal tersebut akan semakin memudahkannya dalam membentuk karirnya kedepan, terutama terhadap tugasnya sebagai Kader Muhammadiyah. (deansa)

Sumber: http://www.umy.ac.id/berita